Tetesan embun kian membasahi dahan dahan dibalik jendela kamarku,
udara dingin kian merasuk ke dalam sukma. Diam, Entah apa yang kufikirkan
belakangan ini. Zona ketidaknyamanan senantiasa membuatku muak, mungkinkah aku
kehilangan satu titik terbesar dihidupku. Tapi apa??? Apakah mengenai prestasi?
Ah.. tidak mungkin.. karna aku telah berulang kali memenangkan berbagai
perlombaan se-Indonesia seperti dance, solo song, ataupun fashion show.
“Non Fera, neng Fida sudah nunggu didepan” suara bi Inah
mengagetkan lamunanku.
Segera kusisir rambut panjang hitam nan elok ini, ku letakkan
bandok pink favourite pemberian ibu untuk menghiasinya. Sejenak, kupandangi
diriku sambil menghadap ke cermin, “hmm…cantik..!”. kulangkahkan kaki menuju
lantai dasar. Dibalik pintu rumah, Tampak sosok gadis berkerudung satin putih
dengan kacamata biru di kedua matanya, ya dia tak lain adalah Fida, teman
akrabku sejak kecil, kami memiliki banyak perbedaan, seperti hobi, gaya hidup,
terkhusus dalam bidang fashion, dan tentunya Fida lebih agamis dibandingkan
denganku.
Mobil xenia merah muda telah kukeluarkan. Langkah kakinya terdengar
dari dalam mobil. Tak beberapa lama
kemudian, ia muncul dengan senyum
manisnya dan kini ia telah berada di kursi sebelahku. Gas ku tancapkan,
mobilpun melaju dengan kencangnya. Tiba tiba aku teringat akan perbedaan yang
terjadi akhir akhir ini padaku.
“Fid.. kenapa ya? Aku
ngerasa ada yang kurang sama diriku? Udah seminggu ini aku merasakan ada yang
hilang.. tapi apa??” sambil menyetir mobil, kukeluarkan isi hatiku pada Fida.
“tumben fer, kamu bilang kayak gitu… jangan jangan kamu masih mikirin someone ya??”
“ngaco ah… kalau mau nyari pacar mah nggak usah repot repot,
tinggal milih aja beb.. tapi ini beda.. mungkin aku butuh suasana baru kali
ya?”
“hmmm?? Aha! Aku punya ide, besok kan hari minggu, kalo kamu mau..
aku akan ajak kamu kesuatu tempat, gimana? Mau?”
“kemana?” kukerutkan dahiku sambil melirik kearahnya.
“udah… nggak usah banyak nanya… liat aja besok ya nona Fera” senyuman
kedipan matanya semakin membuatku tak sabar untuk menanti hari esok. Apa yang
akan Fida tunjukan? Atau Fida akan mengajakku keluar kota seperti biasanya?
Fida sahabatku..! kau berhasil membuatku penasaran. Kupercepat tancapan gas
mobilku.
000
“Fera… udah siap buat hari ini??” Fida dengan pakaian gamis dan
jilbab hijaunya terlihat dari balik pintu kamarku.
“of course.. Fid, aku pakai baju ini aja nggak papa?” Kutunjukan
baju fashion show minggu lalu.
“hmm… jangan itu.. itu terlalu pendek…” Fida biasanya tak pernah
mengomentari pakaianku, kenapa ini berbeda? Mau ke luar kota aja kenapa ribet
sih, pikirku.
Kamipun siap untuk berangkat, ketika aku hendak mengambil mobilku,
Fida melarangnya.
“kamu mau ambil mobil? Jangan.. aku udah siapkan kendaraan untuk
hari ini, itu dia!” tangannya menunjuk kearah luar gerbang. Mataku sibuk
mencari dimana mobil Fida, dan kini mataku tertuju pada satu kendaraan yan tak
pernah kunaiki sebelumnya, sepeda??
“kamu serius mau bonceng pemenang fashion show se-Indonesia naik sepeda? Bukannya kita mau keluar kota? Ihh.. kamu konyol si Fid?? Ntar kalau jatuh
kayak mana?” aku terus complain pada sahabatku itu.
“kalau mau ikut ayok aku bonceng.. kalo nggak yaudah” muka kesalnya
mendengar protesku masih tergambar diwajahnya, dia mulai menaiki sepeda
mininya. Dengan muka cemberut, aku coba untuk mengikuti apapun perintahnya.
Fida mengendarai sepeda unik itu dengan santai, selama diperjalanan
ia menunjukkan betapa indahnya alam ini “luangin sekali kali waktumu tuh buat
menikmati alam, jangan ke mall terus” kata katanya membuatku senyum. Muka
cemberutku perlahan memudar berganti dengan senyuman disertai gurauan. Tak
terasa sampailah kami didepan lorong kecil yang mungkin hanya bisa dilewati
dengan cara berjalan kaki. Fida memintaku untuk turun, diletakkan sepeda
miliknya. Langkah kaki gadis berkacamata itu sekarang berpindah menuju lorong kecil nan
beraroma tak sedap, cahaya terang sudah mulai terlihat dibalik lorong itu tak
lain adalah sebuah halaman sedikit kumuh danrumah kecil terbuat dari kardus
juga papan. Tiba tiba, salah seorang dari mereka menghampiri aku dan Fida.
“kakakk Fidaaaa……!! Teman teman.. kak Fida datang….” Segerombolan dari
mereka yang sedang asyik bermain, langsung menghampiri kearah kami, senyum
polos mereka tak bisa membohongi kebahagiaan yang mereka rasakan.
“oiya.. ini teman kak Fida, namanya kak Fera. Kasih salam dulu adik
adik..”
“Assalamualaikum kak Fera” sapa anak anak itu.
“Waalaikumsalam” jawabku dengan senyum simpul.
“kak Fida… kak Fera kok nggak pakai jilbab? Bukannya jilbab itu
wajib ya kak?” celetuk salah seorang diantara mereka. Aku tak bisa menjawab
kata kata mereka. Fida mengalihkan topic pembicaraan dengan mengeluarkan
beberapa makanan dari tas ransel miliknya, mereka saling berebut makanan yang telah
dibagikan.
“oke adik adik.. hari ini, kak Fera akan mengajarkan kalian tentang
bahasa Inggris dan mengulang hafalan juz amma yang kemarin ya?” suara lembut
Fida membuatku tak menyangka, tenyata aku memiliki sahabat tidak hanya cantik,
sholihah, baik, tapi juga memiliki sifat rasa sosial yang amat tinggi. Rasa
maluku akan kurangnya ilmu agama tak dapat kututupi. Meskipun mereka hanya anak
anak kecil, mereka tahu akan kewajiban menutup aurat. Lalu bagaimana denganku?
Ya tuntutan pekerjaan sebagai model selalu menjadi alasanku untuk tidak
menggunakan baju panjang ataupun jilbab. “aku harus belajar banyak agama dengan
Fida” pikirku.
Tak terasa matahari mulai memindahkan posisi ke arah barat, hari
ini terasa amatlah menyenangkan, pengalaman baru yang belum pernah aku dapat
sebelumnya. Fida meminta izin untuk pulang, dengan berat hati, mereka
mengizinkan kami untuk pulang. Ucapan salam serta lambaian tangan sebagai
penutup perjumpaan kali ini. Ada rasa getaran dari jiwa yang seolah memanggil
jiwaku untuk kembali ke jalanNya.
Fida kembali mengayunkan sepedanya, sesekali ia melirik kearahku.
“Fer.. maafin ya kalau tadi teman teman kecilku bertanya seperti
itu” ada rasa bersalah, di diri Fida.
“nggak nggak Fid. Aku malah berterima kasih, tanpa sadar mereka sudah
menyadarkanku” kutarik nafas panjangku. “Fid.. aku boleh minta sesuatu sama
kamu?” pintaku ragu ragu.
“asalkan mintanya nggak aneh aneh ya nggak papa” ledekan Fida
membuatku malu.
“ajarin aku agama dan bantu aku untuk belajar menutup aurat” Fera
hanya terdiam.
“bagaimana dengan modelmu? Apa kamu nggak malu??” sindirnya.
“ihh Fida, bukannya lebih malu lagi sama Allah kalau tidak menutup
aurat?” jawabku malu malu.
“okelah kalau begitu, mulai besok, kamu harus mulai privat agama
sama aku ya? Dan bayarannya nggak murah loh” tawa kami mulai menghiasi
perjalanan sore ini.
Ya Allah, inikah sesuatu yang hilang dari hidupku? Kekurangan
pengetahuan akan agamaku sendiri bahkan kurang menyadari akan hadir diriMu.
Terima kasih ya Allah, kau telah memberikan sahabat yang akan membantuku untuk
hijrah ke jalanMu. Bismillahirrahmanirrahim.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar