Minggu, 03 Januari 2016

AKHIRNYA KUTEMUKAN ITU……



Tetesan embun kian membasahi dahan dahan dibalik jendela kamarku, udara dingin kian merasuk ke dalam sukma. Diam, Entah apa yang kufikirkan belakangan ini. Zona ketidaknyamanan senantiasa membuatku muak, mungkinkah aku kehilangan satu titik terbesar dihidupku. Tapi apa??? Apakah mengenai prestasi? Ah.. tidak mungkin.. karna aku telah berulang kali memenangkan berbagai perlombaan se-Indonesia seperti dance, solo song, ataupun fashion show.
“Non Fera, neng Fida sudah nunggu didepan” suara bi Inah mengagetkan lamunanku.
Segera kusisir rambut panjang hitam nan elok ini, ku letakkan bandok pink favourite pemberian ibu untuk menghiasinya. Sejenak, kupandangi diriku sambil menghadap ke cermin, “hmm…cantik..!”. kulangkahkan kaki menuju lantai dasar. Dibalik pintu rumah, Tampak sosok gadis berkerudung satin putih dengan kacamata biru di kedua matanya, ya dia tak lain adalah Fida, teman akrabku sejak kecil, kami memiliki banyak perbedaan, seperti hobi, gaya hidup, terkhusus dalam bidang fashion, dan tentunya Fida lebih agamis dibandingkan denganku.
Mobil xenia merah muda telah kukeluarkan. Langkah kakinya terdengar dari dalam mobil.  Tak beberapa lama kemudian,  ia muncul dengan senyum manisnya dan kini ia telah berada di kursi sebelahku. Gas ku tancapkan, mobilpun melaju dengan kencangnya. Tiba tiba aku teringat akan perbedaan yang terjadi akhir akhir ini padaku.
 “Fid.. kenapa ya? Aku ngerasa ada yang kurang sama diriku? Udah seminggu ini aku merasakan ada yang hilang.. tapi apa??” sambil menyetir mobil, kukeluarkan isi hatiku pada Fida.
“tumben fer, kamu bilang kayak gitu…  jangan jangan kamu masih mikirin someone ya??”
“ngaco ah… kalau mau nyari pacar mah nggak usah repot repot, tinggal milih aja beb.. tapi ini beda.. mungkin aku butuh suasana baru kali ya?”
“hmmm?? Aha! Aku punya ide, besok kan hari minggu, kalo kamu mau.. aku akan ajak kamu kesuatu tempat, gimana? Mau?”
“kemana?” kukerutkan dahiku sambil melirik kearahnya.
“udah… nggak usah banyak nanya… liat aja besok ya nona Fera” senyuman kedipan matanya semakin membuatku tak sabar untuk menanti hari esok. Apa yang akan Fida tunjukan? Atau Fida akan mengajakku keluar kota seperti biasanya? Fida sahabatku..! kau berhasil membuatku penasaran. Kupercepat tancapan gas mobilku.
000
“Fera… udah siap buat hari ini??” Fida dengan pakaian gamis dan jilbab hijaunya terlihat dari balik pintu kamarku.
“of course.. Fid, aku pakai baju ini aja nggak papa?” Kutunjukan baju fashion show minggu lalu.
“hmm… jangan itu.. itu terlalu pendek…” Fida biasanya tak pernah mengomentari pakaianku, kenapa ini berbeda? Mau ke luar kota aja kenapa ribet sih, pikirku.
Kamipun siap untuk berangkat, ketika aku hendak mengambil mobilku, Fida melarangnya.
“kamu mau ambil mobil? Jangan.. aku udah siapkan kendaraan untuk hari ini, itu dia!” tangannya menunjuk kearah luar gerbang. Mataku sibuk mencari dimana mobil Fida, dan kini mataku tertuju pada satu kendaraan yan tak pernah kunaiki sebelumnya, sepeda??
“kamu serius mau bonceng pemenang fashion show se-Indonesia naik  sepeda? Bukannya kita mau keluar kota?  Ihh.. kamu konyol si Fid?? Ntar kalau jatuh kayak mana?” aku terus complain pada sahabatku itu.
“kalau mau ikut ayok aku bonceng.. kalo nggak yaudah” muka kesalnya mendengar protesku masih tergambar diwajahnya, dia mulai menaiki sepeda mininya. Dengan muka cemberut, aku coba untuk mengikuti apapun perintahnya.
Fida mengendarai sepeda unik itu dengan santai, selama diperjalanan ia menunjukkan betapa indahnya alam ini “luangin sekali kali waktumu tuh buat menikmati alam, jangan ke mall terus” kata katanya membuatku senyum. Muka cemberutku perlahan memudar berganti dengan senyuman disertai gurauan. Tak terasa sampailah kami didepan lorong kecil yang mungkin hanya bisa dilewati dengan cara berjalan kaki. Fida memintaku untuk turun, diletakkan sepeda miliknya. Langkah kaki gadis berkacamata itu  sekarang berpindah menuju lorong kecil nan beraroma tak sedap, cahaya terang sudah mulai terlihat dibalik lorong itu tak lain adalah sebuah halaman sedikit kumuh danrumah kecil terbuat dari kardus juga papan. Tiba tiba, salah seorang dari mereka menghampiri aku dan Fida.
“kakakk Fidaaaa……!! Teman teman.. kak Fida datang….” Segerombolan dari mereka yang sedang asyik bermain, langsung menghampiri kearah kami, senyum polos mereka tak bisa membohongi kebahagiaan yang mereka rasakan.
“oiya.. ini teman kak Fida, namanya kak Fera. Kasih salam dulu adik adik..”
“Assalamualaikum kak Fera” sapa anak anak itu.
“Waalaikumsalam” jawabku dengan senyum simpul.
“kak Fida… kak Fera kok nggak pakai jilbab? Bukannya jilbab itu wajib ya kak?” celetuk salah seorang diantara mereka. Aku tak bisa menjawab kata kata mereka. Fida mengalihkan topic pembicaraan dengan mengeluarkan beberapa makanan dari tas ransel miliknya, mereka saling berebut makanan yang telah dibagikan.
“oke adik adik.. hari ini, kak Fera akan mengajarkan kalian tentang bahasa Inggris dan mengulang hafalan juz amma yang kemarin ya?” suara lembut Fida membuatku tak menyangka, tenyata aku memiliki sahabat tidak hanya cantik, sholihah, baik, tapi juga memiliki sifat rasa sosial yang amat tinggi. Rasa maluku akan kurangnya ilmu agama tak dapat kututupi. Meskipun mereka hanya anak anak kecil, mereka tahu akan kewajiban menutup aurat. Lalu bagaimana denganku? Ya tuntutan pekerjaan sebagai model selalu menjadi alasanku untuk tidak menggunakan baju panjang ataupun jilbab. “aku harus belajar banyak agama dengan Fida” pikirku.
Tak terasa matahari mulai memindahkan posisi ke arah barat, hari ini terasa amatlah menyenangkan, pengalaman baru yang belum pernah aku dapat sebelumnya. Fida meminta izin untuk pulang, dengan berat hati, mereka mengizinkan kami untuk pulang. Ucapan salam serta lambaian tangan sebagai penutup perjumpaan kali ini. Ada rasa getaran dari jiwa yang seolah memanggil jiwaku untuk kembali ke jalanNya.
Fida kembali mengayunkan sepedanya, sesekali ia melirik kearahku.
“Fer.. maafin ya kalau tadi teman teman kecilku bertanya seperti itu” ada rasa bersalah, di diri Fida.
“nggak nggak Fid. Aku malah berterima kasih, tanpa sadar mereka sudah menyadarkanku” kutarik nafas panjangku. “Fid.. aku boleh minta sesuatu sama kamu?”  pintaku ragu ragu.
“asalkan mintanya nggak aneh aneh ya nggak papa” ledekan Fida membuatku malu.
“ajarin aku agama dan bantu aku untuk belajar menutup aurat” Fera hanya terdiam.
“bagaimana dengan modelmu? Apa kamu nggak malu??” sindirnya.
“ihh Fida, bukannya lebih malu lagi sama Allah kalau tidak menutup aurat?” jawabku malu malu.
“okelah kalau begitu, mulai besok, kamu harus mulai privat agama sama aku ya? Dan bayarannya nggak murah loh” tawa kami mulai menghiasi perjalanan sore ini.
Ya Allah, inikah sesuatu yang hilang dari hidupku? Kekurangan pengetahuan akan agamaku sendiri bahkan kurang menyadari akan hadir diriMu. Terima kasih ya Allah, kau telah memberikan sahabat yang akan membantuku untuk hijrah ke jalanMu. Bismillahirrahmanirrahim.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar